Sabtu, 07 Mei 2011

KISAH KAPTEN SINAR KUDAUS DI SANDERA PEROMPAK SOMALIA


Awak kapal MV Sinar Kudus kembali ke tanah air, kemarin, setelah 46 hari disandera perompak Somalia. Kepulangan awak kapal ini pun disambut keluarga dengan baik, karena mereka pulang dalam keadaan selamat.

Namun, Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi mengkawatirkan awak kapal masih mengalami trauma. "Perlu dilakukan pemeriksaan psikologis terhadap anak buah kapal (ABK) Sinar Kudus dari trauma pembajakan," kata Hanafi kepada VIVAnews.com, 8 Maret 2011.

Namun Rezky Judiana, anak dari Slamet Juari yang menjdi kapten kapal Sinar Kudus, mengatakan Slamet tidak memperlihatkan trauma usai disandera. "Dalam keadaan baik. Sampai sekarang juga Papa masih ngobrol dengan yang lain, tidak terlihat trauma," kata Kiki.

Usai peristiwa pembajakan, keluarga sebenarnya khawatir dan meminta Slamet Juari tidak lagi membawa kapal dengan jarak jauh. "Kalau ke Asia sih tidak apa-apa, tapi kalau ke Eropa kami agak khawatir," ucap Kiki.

Ternyata, Slamet mengaku tidak trauma dan masih bersedia jika memang mendapat tugas berlayar jauh. Namun, Slamet akan istirahat dulu dan tidak berlayar selama beberapa waktu. "Papa memang tidak betah kalau diam di rumah. Tapi dia mau istirahat dulu selama satu bulan atau dua bulan," jelas Kiki.
Slamet Juhari, kapten Kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia, menceritakan saat mendebarkan jelang kesepakatan pembebasan para ABK dan pembayaran uang tebusan.

Juhari menyebut para perompak sempat terpecah dan berniat saling bunuh sesamanya karena perbedaan jumlah uang tebusan.

"Tanggal 27 sudah ada kesepakatan yang ditandatangani perusahaan dan perompak, jumlah uang tebusan sebesar 3 juta dolar Amerika. Tapi rupanya, pada malam tanggal itu, ada anggota perompak yang meminta ke saya uang tebusan ditambah. Saya menolak," tutur Juhari di Ballroom Sheraton Hotel Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (7/5/2011).

Juhari pun harus berakting atas penolakan tambahan uang tebusan tersebut. Ia berpura-pura pingsan.

"Saya meraung, menangis sejadi-jadinya kemudian pura-pura pingsan. Rupanya kejadian itu yang membuat kelompok perompak terpecah," paparnya.

Juhari menyebut, satu kelompok perompak yang sepakat uang tebusan berjumlah 3 juta dolar Amerika, menuding kelompok perompak lain mengacaukan kesepakatan.

"Mereka saling tuding dan berniat saling bunuh. Ada yang bilang kenapa bikin kapten kapal sakit?" tuturnya.

Pada pagi tanggal 28 April, Juhari menuturkan, terjadi kesepakatan antarperompak soal nilai tuntutan.

"Entah bagaimana, mereka berdamai. Kesepakatan dengan kami tanggal 30 April, uang tebusan senilai 3 juta dolar Amerika harus diberikan," lanjut Juhari.

Ia mengaku tak tahu detail penyelamatan diri-nya beserta 19 ABK lainnya oleh pasukan TNI. Pun, ia mengakui kesigapan para tentara tersebut dalam melakukan evakuasi.

"Saya memberi sinyal mayday dari jarak 40 mil laut. Helikopter langsung datang dan pasukan pun turun. Saya tak tahu apa yang terjadi, yang pasti saya bersyukur semuanya bisa selamat,"pungkasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar