Jumat, 22 April 2011

KESAKSIAN SEORANG TERORIS TENTANG JIHAD INDIVIDU


Asep Jaja adalah salah satu orang yang "patut" didengar pandangannya soal berbagai aksi teror di Tanah Air. Dia adalah tokoh penting Mujahidin KOMPAK, laskar yang terkenal garang saat konflik Poso dan Ambon pecah. Jaringannya di dunia teror luas. Lelaki asal Banjar, Jawa Barat, ini pernah berlatih militer di Mindanao, Filipina, pada awal tahun 2000-an. Dia lalu bahkan dihukum penjara seumur hidup karena menyerang pos Brimob di Loki, Seram, pada 2004 silam. Kini Asep mendekam di Penjara Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Toh demikian, Asep menyatakan tak setuju dengan bom bunuh diri di Masjid Adz-Zikra, Markas Polres Cirebon, pertengahan Maret lalu. Apa pandangan dia tentang aksi teror yang kini sedang beralih rupa menjadi “jihad individu” itu? Berikut petikan wawancara Solahudin dengannya di Penjara Porong, Jumat lalu, 22 April 2001.
Sekarang banyak aksi pengeboman dilakukan kelompok kecil yang disebut kelompok jihad fardiyah. Apakah ini gejala baru?Secara istilah, jihad fardiyah baru. Sebelumnya tak dikenal istilah ini. Namun jihad jenis ini sudah dipraktekkan sejak lama. Kenapa saya bilang begitu, karena intinya jihad fardiyah adalah jihad yang tidak melibatkan organisasi atau jamaah jihad. Sekelompok orang bersepakat lalu menyerang musuh-musuh Islam.
Itulah yang terjadi pada Bom Bali II. Saya pernah ngobrol dengan Dulmatin. Dia bercerita bahwa aksi bom Bali dilakukan oleh sekelompok orang JI (Jamaah Islamiyah) yang melakukan aksi tanpa seijin JI. Kenapa mereka tak minta ijin? Karena JI secara organisasi melarang. Sementara Dulmatin, Imam Samudera, dan kawan-kawan, melihat bahwa hukum jihad saat ini adalah fardhu ain, oleh karena itu tak perlu ijin dari Amir (pimpinan), orang tua, keluarga, termasuk tanzim (organisasi).
Kenapa jihad fardiyah sekarang jadi tren?Salah satunya karena makin mudahnya orang untuk berjihad. Makin mudah untuk mendapat ilmu askary (ilmu militer). Siapa saja yang bersemangat ingin jihad bisa belajar ilmu-ilmu askary di Internet. Misalnya, untuk menguasai bom tidak perlu lagi pergi ke Afganistan atau Mindanao. Tinggal belajar di Internet.  Setelah menguasai ilmunya, dia bisa langsung jihad, karena dalam konsep jihad fardiyah berperang satu atau dua orang juga termasuk jihad.
Soal bom bunuh diri di Cirebon, apa pendapat Anda?Saya pribadi melihat aksi-aksi ini tidak efektif dan kurang bermanfaat. Lihat misalnya kasus Bom Cirebon. Hampir tidak ada dukungan dari umat Islam. Mayoritas mengecamnya. Bayangkan orang seperti Ustadz Abu Bakar Baasyir saja mengecam dan mengatakan pelakunya gila. Harusnya aksi jihad itu melahirkan dukungan dari umat Islam, bukan cacian.
Menurut saya kesalahan teman-teman adalah mereka tak faham fiqh waqi (fiqh realitas), mereka tidak membaca realita sosial politik, atau memperhitungkan manfaat dan mudaratnya. Modalnya hanya dalil syari saja. Ketika dalil syari membolehkan, mereka bergerak tanpa mempertimbangkan konteks sosial politik. Padahal pemahaman atas konteks sosial politik ini atau fiqh waqi ini penting sekali.
Kenapa mereka tetap melakukan aksi teror, seperti kasus Bom Serpong? Semangat yang tinggi. Saya pernah punya perasaan yang sama dengan mereka. Dulu waktu saya menyerang Pos Brimob di Loki, Seram, pada 2004, juga tidak berpikir soal manfaat atau mudaratnya. Saya hanya lihat ada kesempatan, terus kami serang. Kami tanpa pernah memikirkan waqi. Pokoknya, ada peluang kami serang. Setelah kasus Loki terbongkar, kelompok jihad di Ambon digulung. Senjata-senjata kami dirampas, orang-orangnya ditangkapi. Semua yang kami kerjakan selama bertahun-tahun jadi rusak. Saya juga sadar, saat semangat sedang tinggi tak ada orang yang bisa melarang. Bisa-bisa orang yang melarang dituding anti jihad.
Bagaimana sebenarnya strategi kelompok ini?Saya menduga mereka menganut strategi bakar sampah. Mereka pikir sampah kalau dibakar di sana-sini terus menerus, lama-lama akan habis. Persoalannya, itu bisa efektif kalau sampahnya sedikit, bukan segede gunung, apalagi ini tiap hari makin banyak orang yang buang sampah. Belum habis sampahnya, sudah nambah lagi. Nah, mereka menganut pandangan-pandangan seperti ini karena mereka kurang memahami waqi. Kebanyakan hanya pintar dalam ilmu syari dan askary saja, tapi soal waqi sangat minim. Meskipun begitu, saya tetap menghormati semangat mereka. Semoga amal mereka bisa diterima.

0 komentar:

Poskan Komentar