Sabtu, 19 Februari 2011

WANITA INI NEKAT MAIN TWITER SELAMA PROSES PERSALINAN


Perkembangan teknologi memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Itu terbukti pada kehidupan Mel Wilson. Gara-gara keranjingan Twitter, wanita 30 tahun ini membiarkan semua orang di dunia mengikuti proses persalinannya secara intens.

"Saya rasa, tadi pasti kontraksi," demikian salah satu tweet yang ia kirim di akun Twitter-nya pada Kamis pekan lalu. Tweet yang terkirim pukul 17.42 inilah yang mengawali rangkaian tweet lainnya terkait proses kelahiran bayi perempuannya.

Pada sore itu, dia merasakan kontraksi yang luar biasa dan sempat mengira akan melahirkan pada malam hari. Namun, dugaannya salah karena kontraksi yang dirasakannya menghilang dan dia pun masih dapat tidur dengan nyenyak.

Pada esok harinya, wanita asal Darlington ini terus melaporkan keadaannya melalui jejaring sosial ini walaupun kontarksi yang dia rasakan semakin kuat.

Seketika wanita ini menjadi salah satu orang populer, bahkan dia sempat menjadi 'trending topic' di situs tersebut. Mendadak, dia pun kebanjiran follower yang ingin mengetahui proses kelahiran bayi perempuannya itu.

Serangkaian tweet yang terkirim dalam 25 jam mengiringi kelahiran bayi perempuan yang diberi nama Finley. Bahkan, Wilson pun sempat memosting foto bayi mungilnya yang cantik.

Istri Dylan, 40 tahun, ini menyatakan bahwa hal ini sangat wajar baginya. "Saya selalu berada di Twitter, jadi akan sangat aneh jika saya tiba-tiba tidak berkicau," ujarnya seperti dikutip laman Daily Mail.
Awalnya, wanita dengan tiga orang anak ini jatuh cinta pada Twitter karena dia adalah seorang pengendara sepeda yang memiliki banyak teman. Twitter memudahkannya untuk berhubungan dengan teman-temannya, serta menemukan pengendara sepeda lainnya.

"Saya memiliki banyak teman dan Twitter memudahkan saya untuk menghubungi mereka. Twitter juga yang membuat saya tetap online selama persalinan," ujarnya.

Wilson mengaku memosting ratusan tweet tanpa sepengetahuan bidan. Ia bersyukur atas dukungan dan ucapan selamat yang terus mengalir lewat Twitter.

Bahkan, ucapan selamat dari orang tak dikenal, seperti anggota dewan untuk kota Darlington, Jenny Chapman. "Dia sangat cantik Mel, selamat untuk kalian berdua," ujar Jenny Chapman dalam akun Twitter-nya.

PRIA INI NEKAT TANAM KAMERA DI KEPALA LEWAT OPERASI


Kamera dipasang menggunakan lempeng titanium di tengkorak belakang.
Teknologi kamera video atau telepon seluler belum cukup untuk merekam kejadian unik dan mengesankan bagi Wafaa Bilal.

Pria Irak yang juga profesor fotografi di New York University's Tisch School of Arts, ingin merekam kehidupannya dari dua sisi sekaligus. Dan, muncullah ide tak masuk akal, menempel kamera pada tengkorak kepala.

Kamera dipasang menggunakan lempeng titanium di belakang kepalanya. Dengan begitu, ia dapat merekam gambar video secara real time segala sesuatu yang berada di sekelilingnya.

Kamera yang terpasang melalui operasi pada Desember 2010 itu, mampu mengambil sebuah foto per menit. Kamera yang sama juga berfungsi sebagai pelacak tiap langkahnya lewat GPS.

Menurut Wafaa, ini ia lakukan demi kecintaannya terhadap seni. Semua gambarnya akan dijadikan sebuah program acara seni komtemporer di Museum Seni Doha, Qatar.

Meski mengakui operasi pemasangan di sebuah salon body piercing sangat menyakitkan, Wafaa senang karena dapat merekam kehidupan sehari-harinya. Pria yang melarikan diri dari negaranya pada 1991 memiliki pengalaman mengerikan yang berusaha dikenangnya.

"Bila mengingat peristiwa yang terjadi di kota Najaf yang penuh bom saat kami menyelamatkan diri, saya sangat ingin merekamnya," katanya seperti dikutip BBC News. "Ada banyak hal yang menurut orang lain aneh dan tak menarik, tapi secara kolektif mereka membentuk mosaik cukup bagus dari kehidupan sehari-hari."

Setelah 'organ' barunya terpasang, Wafaa mesti melakukan berbagai penyesuaian dalam keseharian. Selagi mandi, Wafaa harus menutupi kepalanya dengan topi transparan atau menjalani pemeriksaan keamanan lebih lama saat di bandara. Sang pacar tak keberatan dengan kelakuan anehnya dan tak memberlakukan jam malam bagi kamera di kepala Wafaa.

Awal tahun 2010, seniman ini juga mentato tubuhnya dengan gambar peta Irak, lengkap dengan lokasi korban warga Irak dan tentara Amerika Serikat. Kamera di kepalanya, menurut Wafaa, adalah proyek kecil di masa depan.

Namun langkah seniman ini terhenti setelah sebulan lebih menjalankan misinya. Tubuhnya menolak perangkat tersebut. Pada 3 Februari 2011, dokter melakukan operasi melepas perangkat kamera karena menimbulkan risiko infeksi. Menurut dokter, pemasangan tersebut menyebabkan gangguan dan rasa sakit meskipun diobati dengan antibiotik dan steroid.

Wafaa tak menyerah, lewat blognya ia menyatakan akan segera menggunakan kamera lagi segera setelah sembuh. Namun kali ini akan menggantungkan kamera bertali pada lehernya agar tetap merekam gambar.