Jumat, 22 Oktober 2010

GUNUNG MERAPI KRITIS SIAP MELETUS

 
Kondisi Gunung Merapi semakin kritis. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahkan menyatakan kondisi Gunung Merapi saat ini tidak akan kembali ke posisi normal semula.

“Jika melihat perubahan yang terjadi sejak September hingga saat ini,diperkirakan Gunung Merapi sudah mencapai kondisi point of no return,” ujar Kepala PVMBG Surono saat sosialisasi di Balai Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, kemarin.

Dia menuturkan, gempa-gempa yang terjadi di Merapi saat ini lebih besar daripada 2006 lalu.Aktivitas Gunung Merapi sudah meningkat lebih dari 500%.“Apakah artinya gunung ini akan segera meletus, kalau itu yang mengetahui adalah Merapi sendiri,“ katanya.

Surono menjelaskan, pada 20 Oktober 2010 atau sehari sebelum gunung ini dinaikkan statusnya menjadi siaga,tercatat telah terjadi 479 kali kejadian gempa multiphase, 39 kejadian gempa vulkanik, dan 29 kali guguran.

“Ciri-ciri lain adalah kandungan air dan gas Merapi sudah sangat berkurang, artinya kondisinya sudah panas sekali.”  “Suhu terakhir yang kita catat di kawasan Woro pada 20 Oktober mencapai 587 derajat Celsius,”katanya.

Kemarin, guguran material di Gunung Merapi cenderung meningkat. Menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian(BPPTK) Yogyakarta Subandrio, jarak luncuran guguran material Merapi saat ini sekitar 1,5km dengan volume yang semakin besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Guguran masih tetap mengarah ke Kali Gendol di sisi selatan dan Kali Krasak di sisi barat daya. Kecenderungan guguran material, menurutnya,akan semakin meningkat hingga kemudian terbentuk kubah lava baru sebelum muncul erupsi.

Jika kondisi terus terjadi, Merapi akan meletus sesuai dengan  arakteristik normalnya.Namun jika terjadi proses yang berbedajseperti adanya akumulasi gas,jenis letusannya juga berbeda.

Dia mengatakan, selama status siaga, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III belum perlu diungsikan.Namun, masyarakat yang tinggal dengan radius 7 km dari puncak Merapi tersebut wajib mengungsi apabila status Merapi meningkat menjadi awas atau saat muncul awan panas.

“Di KRB III tersebut terdapat sekitar 40.000 jiwa yang tersebar di beberapa kabupaten di sekitar Merapi,” ujarnya.
 
Warga lereng Gunung Merapi dikejutkan kehadiran burung merak di kampung mereka. Turunnya burung merak ini disinyalir berhubungan dengan status gunung menjadi 'waspada'.
Kode:
 
 
 
Sejumlah satwa liar dari Gunung Merapi sejak satu pekan lalu tampak berkeliaran di pemukiman warga.
Kode:  
 

0 komentar:

Poskan Komentar