Sabtu, 19 Mei 2012

Dunia Menyorot Pembatalan Konser Lady Gaga



Penyanyi eksentrik dari Amerika Serikat, Lady Gaga, kemungkinan besar tidak akan bisa manggung di stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia. Pasalnya, hingga detik ini Polda Metro Jaya urung mengeluarkan surat izin penyelenggaraan konser yang tiketnya telah ludes terjual tersebut.

Izin konser bertajuk "The Born This Way Ball" itu belum diberikan Polda lantaran desakan dan rekomendasi dari berbagai organisasi dan ormas Islam di negara ini, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Front Pembela Islam (FPI). Ormas yang terakhir disebut bahkan mengancam memicu kerusuhan di Jakarta jika Lady Gaga jadi tampil di bumi Indonesia.

Demi keamanan, Polda Metro Jaya sebagai pemegang mandat penjaga stabilitas di Jakarta memilih tidak mengeluarkan surat izin konser yang rencananya akan digelar pada 3 Juni mendatang.
"Mabes Polri belum memberikan izin terhadap rencana konser Lady Gaga. Polda Metro Jaya selaku penanggung jawab wilayah Jakarta tidak memberikan rekomendasi untuk melaksanakan konser di Jakarta," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, dalam konfrensi pers di Gedung PTIK, Selasa 15 Mei 2012.

Kisruh izin konser Lady Gaga ramai diberitakan di seluruh media tanah air. Saat ini bisa dibilang ada dua isu besar yang tengah seru dibicarakan. Pertama, adalah tragedi yang memilukan, yaitu jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak yang menewaskan puluhan orang. Kedua, adalah Lady Gaga, si primadona dunia yang tidak dapat tempat di Indonesia.

Selain media di Indonesia, perihal Lady Gaga tidak diberi izin juga santer diberitakan media internasional. Tidak kurang ribuan laman berita di seluruh dunia terindeks di Google, membicarakan Lady Gaga gagal manggung. Di antaranya adalah media-media besar, sebut saja Reuters, CNN, BBC, Wall Street Journal, Daily Mail, Bloomberg, Associated Press danHuffington Post.

Wall Street Journal, surat kabar ekonomi dan bisnis, memberikan judul “Lady Gaga Not Welcome in Indonesia, says Muslim Group” untuk artikelnya. Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa Lady Gaga ditolak oleh tokoh muslim konservatif karena mempromosikan penyembahan pada setan.

Padahal, lebih dari 30.000 tiket telah terjual habis, membuktikan Gaga punya Little Monster,  sebutan untuk fansnya, yang jumlahnya tidak sedikit. "Harga tiketnya bervariasi dari Rp750.000 hingga Rp2,25 juta, harga yang tidak semua orang Indonesia mampu membayarnya," tulis Wall Street Journal.

Reuters dalam tulisannya yang berjudul "Lady Gaga Gagged in Indonesia after Islamic Opposition" mengutip komentar Salim Alatas, Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salim Alatas. "Dia adalah penyanyi vulgar yang hanya mengenakan celana dalam dan bra ketika bernyanyi. Dia juga menyatakan diri sebagai utusan setan dan akan menyebarkan ajaran setan," kata Salim.

Komentar tokoh FPI juga dikutip oleh media besar di Inggris yang terkenal akan berita featurenya, Daily Mail. "Lady Gaga menghina semua agama. Bahkan umat Kristen di Korea menentangnya. Dia mempromosikan ajaran Setan," kata Munarman, Juru Bicara FPI.

Cable News Network atau CNN juga tidak ketinggalan memberitakan soal nasib Lady Gaga di Indonesia. Dalam beritanya berjudul "Muslim Protests May Force Cancellation of Lady Gaga Concert in Indonesia", CNN menuliskan bahwa ketua FPI, Habib Rizieq, mengancam keamanan Jakarta jika konser Gaga jadi digelar.

"Ada kecemasan di kalangan Islamis dan Muslim konservatif di Indonesia atas kostum dan tarian sensual Lady Gaga yang menurut mereka 'haram', istilah bahasa Arab yang maksudnya 'terlarang menurut hukum Islam'," tulis CNN.

CNN juga menuliskan bahwa ini bukan kali pertama konser Gaga di mancanegara ditolak. Sebelumnya, sebuah kelompok Kristen di Korea Selatan menolak pagelaran tersebut. Pemerintah Korsel tidak sampai tidak memberikan izin, hanya membatasi usia penonton konser. Alhasil, konser tersebut hanya dihadiri mereka yang berusia 18 tahun ke atas.

"Beberapa orang di kebudayaan tertentu memang bisa menerimanya, tapi efeknya bagi agama sangat besar. Bahkan orang dewasa sekalipun tidak boleh melihat penampilannya, yang berbau homoseksual dan porno," kata pendeta Yoon Jung-hoon yang menggawangi penolakan terhadap konser Gaga.

British Broadcasting Corporation atau BBC mengangkat soal protes pemuda Indonesia di media sosial Twitter. Dalam artikel berjudul "Lady Gaga Indonesia Concert Denied Permit by Police", BBC mengatakan bahwa para Little Monster bersatu di hashtag#IndonesiaSavesGaga, berharap dapat mengubah keputusan polisi.
"#23 ‏(@thesalshadilla), men-tweet: 'Lady Gaga adalah musisi yang unik. Dia adalah salah satu inspirator saya'. Pemilik akun lainnya dari Indonesia, Jonathan Mathias P, menulis: 'Nonton The Born This Way Ball selama dua jam tidak akan menyakiti rakyat Indonesia. GAGA BUKAN TERORIS!!'."

Panen Kritik
Protes atas konser Lady Gaga disampaikan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Forum Umat Islam (FUI) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat. Surat permohonan penolakan itu telah ditanggapi Sekretariat Negara yang dilanjutkan kepada Polda Metro Jaya.

Isi suratnya meminta polisi mempertimbangkan pelaksanaan konser penyanyi wanita yang memiliki nama asli Joanne Stefani Germanotta tersebut. Intinya, polisi diminta agar mengeluarkan kebijakan agar suasana Ibukota tetap kondusif.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, juga mengatakan hal yang sama. Gamawan menilai Polri pasti telah memiliki pertimbangan khusus dan dipikirkan dengan matang, dengan tidak memberikan izin konser penyanyi yang gemar berdandan nyentrik itu. "Pastilah Pak Kapolri punya pertimbangan untuk masyarakat Indonesia," katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu, 16 Mei 2012.

Keputusan Polda Metro Jaya untuk tidak mengeluarkan izin konser Lady Gaga diprotes pemerhati musik Indonesia, Bens Leo. Menurutnya, pembatalan konser beberapa minggu sebelum hari-H oleh polisi sangat tidak lazim.

"Yang menjadi pertanyaan mengapa konser Lady Gaga dibatalkan setelah ada pihak mengancam akan membuat chaos jika konser tetap digelar," kata Bens kepada VIVAnews.com, Rabu 16 Mei 2012.

Bens Leo menyayangkan pembatalan konser Lady Gaga di Indonesia oleh polisi. "Konser Lady Gaga adalah rangkaian World Tour-nya, dari 27 negara. Indonesia masuk di dalamnya, dan negara terakhir adalah Spanyol, harusnya kita bangga," ujarnya dengan nada kecewa.

Pengamat musik lainnya, Denny Sakrie, angkat bicara. Dia mempertanyakan alasan polisi yang menolak Lady Gaga karena berpenampilan erotis. "Kalau mau melihat alasan itu, yang lebih erotis dari Lady Gaga banyak di sini, tayangan-tayangan YouTube dan acara musik dangdut di daerah apa nggak lebih vulgar?" ujar Sakrie.

Tidak hanya dari kalangan musisi, kritikan juga datang dari anggota dewan. Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin, mengatakan bahwa polisi gamang dalam melaksanakan tugas pokoknya ketika dihadapkan pada ancaman ormas.

"Mereka (Polri) jadi tidak percaya diri ketika dihadapkan dengan sekelompok orang atau ormas yang ingin memaksakan kehendaknya," kata Tubagus.

Kasus ini, ujarnya, juga akan menjadi preseden buruk terhadap penegakan hukum di seluruh wilayah NKRI. "Artinya masyarakat sudah semakin tak percaya terhadap aparat ketika aparat mudah didikte siapa pun," kata Tubagus.

Terakhir, jelas Tubagus, negara telah gagal menjaga semangat pluralisme di Republik ini. "Seni adalah seni, harus dipandang sebagai karya. Andaikan ada yang kurang diterima oleh sebagian masyarakat, selesaikanlah dengan cara bermartabat, bukan dengan cara ancaman, intimidasi, atau tindakan kekerasan," kata Tubagus.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Untung S Rajab, membantah bahwa keputusan mereka diambil bukan karena ancaman ormas. Masyarakat, ujarnya, harus melihat ini lebih luas lagi dan secara obyektif.

"Saya tetap tidak merekomendasi, karena saya melindungi budaya kita. Permalasahan setuju dan tidak setuju itu demokrasi," kata Untung.
Meski demikian, Kapolda tidak menyangkal bahwa usulan dari ormas yang menolak konser Lady Gaga juga dijadikan acuan untuk tidak mengeluarkan rekomendasi. Namun, secara keseluruhan ada delapan komponen yang menyatakan keberatan atas konser itu. "Kemudian pertimbangan lain seperti aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya juga kita pertimbangkan," katanya.

0 komentar:

Poskan Komentar