Sabtu, 31 Maret 2012

Wajah Kemiskinan Eropa



Maria Ene mengusap air mata di halaman rumahnya yang berlumpur di sebuah jalan tanpa nama di Rumania. Meski tanpa sarana air bersih, terpasang dua antena parabola di depan rumah tradisional Rumania yang terbuat dari kayu itu.

Tiga dari lima anak Ene sudah pindah ke Spanyol. Tak terlalu jauh sebenarnya, namun kondisi ekonomi Eropa yang sedang menurun membuat Ene paling hanya bisa sekali setahun melihat anak dan cucunya di sana.

"Saya melihatnya melalui internet," kata Ene, 65 tahun, yang tinggal di desa kecil di Lupsanu, 75 kilometer timur Ibukota Rumania, Bukares. Rupanya antena parabola itu dipakai untuk akses internet berhubungan dengan anak-cucunya.

Melalui internet pula, dia tahu kondisi anak-anaknya di perantauan tak semapan yang dikira. "Keras juga di sana untuk mereka, namun apa yang bisa mereka lakukan di sini? Di sana setidaknya mereka punya pekerjaan," kata Ene.

Sudah lebih dari 20 tahun Rumania terbebas dari komunisme, namun kesenjangan kesejahteraan antara barat dan timur Eropa ini masih ada. Negara-negara dari sekitar Laut Hitam dan Baltik ini pun mulai kehilangan warga yang memilih merantau ke barat yang lebih makmur.

Di bawah Uni Eropa, migrasi memang lebih mudah. Warga-warga di perdesaan meninggalkan negaranya, memasuki kota-kota industri utama di Eropa barat. Tersisalah populasi orang tua dan yang lebih miskin.

Rumania adalah negara termiskin kedua anggota Uni Eropa, dengan upah bulanan rata-rata hanya US$450 atau sekitar Rp4 juta. Akibatnya, migrasi keluar pun terus terjadi, populasi menurun hingga 12 persen dalam satu dekade.

Fenomena penurunan jumlah penduduk ini juga terjadi di sejumlah negara Eropa timur lain. Di Latvia, penurunan mencapai 13 persen, Lithuania 12 persen, Bulgaria 7 persen, dan Serbia 5 persen. Kontrasnya, populasi Jerman meningkat. 

"Sembilan puluh persen orang Rumania percaya tak ada masa depan yang lebih baik dalam waktu dekat di Rumania," kata pemimpin partai oposisi, Victor Ponta, yang difavoritkan menjadi perdana menteri berikutnya pada pemilu November nanti.

Tantangan Lanjut Usia

Tingginya angka perantauan ini membuat negara-negara seperti Rumania, Latvia, Polandia, dan Bulgaria dihantui oleh angkatan kerja yang menua. Angka ini membuat pemasukan pajak penghasilan menurun, sedangkan pengeluaran untuk pensiun akan meningkat.

Rumania sudah menaikkan usia pensiun menjadi 65 tahun untuk pria dan 63 tahun bagi wanita. Namun, tindakan ini belum cukup untuk menjaga kesehatan anggaran. Pilihannya cuma tiga, menaikkan lagi usia pensiun, meningkatkan pajak atau secara permanen berada pada defisit besar.

Namun, di saat yang sama, ada keuntungan lain. Tingginya angka perantau di luar negeri mendatangkan pemasukan devisa besar. Para perantau Rumania diperkirakan mengirim 2,6 miliar euro atau lebih dari Rp30 triliun ke kampungnya pada 2011.

"Justru ini bisa lebih bagus untuk Rumania," kata seorang analis kebijakan luar negeri dari Jerman, Roderick Parkes. Para perantau itu bisa saja kembali ke kampungnya, setelah memperoleh modal dan keterampilan di perantauan

0 komentar:

Poskan Komentar