Sabtu, 03 Maret 2012

5 Tentara AS Terlibat Pembakaran Al Quran


 Sebanyak lima tentara Amerika Serikat diduga terlibat dalam peristiwa pembakaran Al Quran di sebuah pangkalan  NATO di Afganistan. Menurut seorang pejabat NATO, peristiwa tersebut juga melibatkan seorang penerjemah lokal.

Seperti dikutip dalam laman cnn.com, Sabtu, 3 Maret 2012, Al Quran yang dibakar adalah bagian materi keagamaan yang disita dari fasilitas tahanan di pangkalan udara Bagram pekan lalu. Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sebelumnya telah meminta maaf kepada Hamid Karzai dan mengatakan bahwa pembakaran tersebut adalah suatu kesalahan tentaranya.

Pihak militer AS sebelumnya telah menyampaikan alasan pembakaran tersebut. Yakni, material keagamaan yang disita diduga memuat pesan ekstrem atau digunakan sebagai media komunikasi para ekstremis.

Kehebohan atas pembakaran memicu serangkaian protes dan serangan yang menewaskan sedikitnya 39 orang, termasuk 4 orang tentara Amerika dan ratusan lainnya terluka.

Seorang pria mengenakan seragam Tentara Nasional Afganistan membunuh 2 tentara Amerika pekan lalu di pangkalan di timur Afghanistan. Sementara, akhir pekan lalu, dua perwira senior Amerika ditembak mati di dalam kantor Kementrian Dalam Negeri Afganistan.

Sebuah bom bunuh diri terjadi pada Senin di lapangan udara militer di timur Afganistan, yang menewaskan sembilan orang dan 12 orang terluka, ungkap polisi Afganistan.

Kemudian, di sisi utara provinsi Kunduz, demonstran menyerang kantor kepala polisi dan pangkalan militer Amerika, dan beberapa orang melempar granat tangan, dan melukai tujuh pasukan Amerika.

Demonstrasi yang dilakukan di luar kantor PBB di Kunduz, pada Sabtu menyebabkan empat warga sipil tewas dan memaksa PBB untuk merelokasi para staf internasionalnya.

Taliban juga mengklaim telah meracuni pasokan makanan di markas operasi Torkham, berdekatan dengan perbatasan Afganistan dengan Pakistan, sebagai balas dendam atas pembakaran Al Quran.

Serangan ini telah memberikan tekanan dan menegangnya hubungan Amerika-Afganistan pada saat Amerika telah bekerja untuk mengurangi jumlah pasukannya dan melakukan transisi keamanan pada 2014.

0 komentar:

Poskan Komentar