Sabtu, 23 April 2011

POLISI TANGKAP JARINGAN PEREKRUT NII DI YOGYA


Yogyakarta - Jajaran Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil menangkap JARINGAN PEREKRUT anggota Negara Islam Indonesia NII di wilayah Yogyakarta. Mereka beroperasi dengan cara mendatangi tempat kos calon anggota yang bakal direkrut.

"Satu orang tersangka berinisial Ft (21), mahasiswi sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) semester VI di Yogyakarta," kata Kapolda DIY, Brigjen Ondang Sutarsa, Sabtu (23/4/2011).

Menurut Ondang, tersangka ditangkap setelah ada laporan warga yakni kepala dukuh, Ketua RT dan  mahasiswi penghuni kos-kosan yang didatangi perekrut jaringan NII. Tersangka ditangkap petugas pada Jumat malam di kampung Mrican Jl Affandi, Catur Tunggal, Depok, Sleman.

"Laporan pertama kali masuk di Polsek Depok Barat. Saat ini tersangka masih diperiksa secara intensif dan tertutup di Mapolres Sleman," katanya.

Ondang menduga jaringan perekrut anggota NII ini bergerak dengan cara mendatangi tempat kos-kosan. Di wilayah Kecamatan Depok, Sleman terdapat banyak perguruan tinggi negeri dan swasta seperti kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, STIE YKPN, STIMIK Amikom dll.

"Ft berdasarkan pengakuan kepada petugas saat diperiksa mengaku asli Yogya. Namun ini masih kita dalami karena ada beberapa keterangan yang berbeda," katanya.

Sementara itu Kapolres Sleman, AKBP Irwan Ramaini secara terpisah mengatakan pelaku sebenarnya juga merupakan korban dari jaringan NII. Sebab yang bersangkutan juga mendapat doktrin untuk merekrut anggota baru.

"Dia bersama satu temannya berinisial Ret sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ft juga sudah menerima uang dari hasil rekrutan tersebut," kata Irwan tanpa menyebut jumlah nominal uangnya yang didapat dari tersangka.

Menurut Irwan, terbongkarnya jaringan ini setelah ada kecurigaan korban seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri (PTN di Karangmalang terhadap kenalannya Ft yang sering datang ke kos. Tersangka setiap datang ke kos selalu mengajak diskusi soal agama. Namun dari diskusi tersebut, korban merasa curiga yang kemudian dilaporkan ke pemilik kos dan ketua RT setempat.

"Dari keterangan sementara, calon-calon anggota yang direkrut itu kemudian mau diajak untuk hijrah dan dibaiat di Jakarta," pungkas Irwan.

0 komentar:

Poskan Komentar