Sabtu, 23 April 2011

MENGENAL PEPI FERNANDO SUTRADARA OTAK BOM BUKU DAN SERPONG


JAKARTA - Pepi Fernando, disebut-sebut sebagai otak perencanaan aksi teror Bom buku dan bom Serpong. Siapa sebenarnya Pepi Fernando itu?

Pepi merupakan suami dari Deni Karmelita alias Ita, seorang pegawai negeri sipil di Badan Narkotika Nasional (BNN) pimpinan Komjen Pol Gories Mere, satu dari empat tokoh yang dikirimi paket bom buku.

"Istrinya bertugas di bagian Public Relation BNN," ujar sumber Tribun, Sabtu (23/4/2011). Pepi, menurut Kabag Penum Humas Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar, adalah sarjana lulusan Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sekarang Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, tahun 2001.

Pepi berasal dari Sukabumi, Jawa Barat dan berdomisili di Jalan Seruni 2, Blok C-E nomor 14, Perumahan Harapan Indah, Bekasi. Pepi ditangkap polisi pada Kamis (21/4/2011) pagi, di Merduati, Banda Aceh, bersama dua tersangka teroris lainnya Joko dan F. "Dia mau melarikan diri ke sana,"
imbuh sumber.

Ayah tiga anak ini dikenal memiliki pergaulan luas dengan kalangan pekerja media. "Dia banyak kenal orang media. Pernah dulu kala bekerja untuk buat acara-acara di televisi beberapa tahun lalu," kata Boy.

Pepi, lanjut Boy, juga seorang sutradara film. Satu-satunya film yang pernah disutradarainya adalah film dokumenter tentang tsunami Aceh berjudul "Dalam Dekapanku".

Menurut sumber, Pepi juga pernah bekerja sebagai wartawan infotaiment di sebuah media. Dia juga pernah bekerja di tiga rumah produksi (production house) yaitu PT ANZ, Avicom, dan CR. "Dia pernah membuat production house," timpal Boy.

Pepi disebut-sebut pernah menjadi reporter di tayangan infotaiment "Otista" yang ditayangkan di SCTV. Seakan berjodoh, istrinya juga pernah menjadi wartawan tabloid infotaiment Cek n Ricek dalam kurun waktu 2003-2006.

Pepi, menurut informasi yang berhasil dihimpun Tribun, sering bepergian ke Aceh. Namun dia enggan mengungkap detail pasti tujuannya ke tanah Rencong itu. Pepi hanya menyebut kepergiannya ke Aceh untuk keperluan berladang.

Pepi dikenal penganut Islam fanatik. Dirinya tak segan-segan menolak bersentuhan tangan dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Dia juga jarang memandang mata lawan bicaranya.

Belajar Rakit Bom dari Google

Pepi, menurut Polri, merakit sendiri bom buku dan bom yang ditanamnya di pipa Perusahaan Gas Negara (PGN) di Serpong, dekat Gereja Christ Cathedral. Kemampuan merakit bom, didapatnya dari buku dan internet.

"Dia lihat dari Google. Disitu kan banyak ilmu cara merakit bom," ujar sumber menimpali.

Namun ternyata, Pepi sendiri tak menyangka bom yang dirakitnya secara otodidak itu berfungsi. Dia kaget kala salah satu bom yang dirakitnya sendiri, yaitu bom yang dialamatkan untuk Ulil Abshar Abdalla di kantor berita KBR68H, meledak.

"P termasuk dalam kategori untuk merancang kemudian mempersiapkan. Dia belajar sendiri cara rakit bom buku untuk yang di KBR68H. Dia juga tidak menyangka akan meledak. Dia belajar rakit sendiri," kata Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu

0 komentar:

Poskan Komentar